Cerita daftar Ausbildung di Jerman

Seminggu yang lalu gak tulis apapun di blog karena sibuk, sibuk bikin pulau a.k.a main Animal Crossing, hahaha. Lupa waktu tiap hari. Hari ini diniatin untuk tulis sesuatu di blog yang diharapkan bisa membantu dan jadi berkat bagi saudara saudari sekalian. Hahaha. Kali ini, aku mau cerita tentang pengalamanku saat daftar ausbildung.

Kalau gak salah, aku apply visa Ausbildung pada tahun 2015. Waktu itu, masih belum banyak orang Indonesia yang tahu tentang Ausbildung. Aku sendiri tahu tentang Ausbildung saat aku udah di Jerman. Kalau yang belum baca, tahun 2014 aku Aupair di Jerman, kalau mau baca bisa klik link di sebelah ini (Pengalaman Au-pair di Jerman). Saat itu juga, belum ada pengungsi dari Syria. Jadi, dengan kata lain, saat itu belum banyak orang asing yang mengajukan visa Ausbildung. Aku sendiri ingin ikut Ausbildung koki bukan karena aku ingin jadi koki, tapi lebih karena aku ingin study di Jerman. Aku sebenernya ingin kuliah kimia atau farmasi di Jerman, karena setauku, bidang kesehatan di Jerman sangat bagus, sehingga dari dulu aku memang udah bercita-cita untuk bisa melanjutkan study di Jerman. Hanya saja, keterbatasan uang jadi kendala. Untuk daftar visa kuliah di Jerman sendiri, persyaratannya adalah kami harus punya sperrkonto (uang yang ada di Bank dan ada limit ambil per-bulan) sebesar 9080€. Itu di tahun 2014-2015. Sekarang sih aku gak tau harus punya Sperrkonto berapa banyak. Itu digunakan sebagai uang jaminan, bahwa kamu punya uang di bank dan gak akan jadi gelandangan di Jerman nanti. Itu baru uang jaminan. Kapan-kapan aku jelaskan juga proses kuliah di Jerman, aku bisa minta Bram yang kuliah disini untuk menjelaskan. Belum lagi uang makan harian, uang tempat tinggal, uang kuliah, dll. Aku gak sanggup untuk itu, dan aku juga tau kalau orang tua juga gak sanggup kasih aku uang sebanyak itu.

Semuanya memang udah rencana Tuhan, aku bertemu dengan teman dari kota yang sama di Indonesia, lalu kami jadi temen deket sampai sekarang. Saat itu, dia sedang Ausbildung koki dan dulunya, dia juga Aupair. Jadi kami banyak bertukar cerita, dia juga banyak membantu aku. Dia menyarankan agar aku coba Ausbildung. Kalau yang belum tahu, di Jerman gak semua pekerjaan harus kuliah. Ada berbagai macam jenis pekerjaan yang harus dipelajari lewat Ausbildung. Kalau di Indo kan, mau jadi perawat, kerja di apotek, resepsionis, pilot, guru TK, dll harus kuliah. Disini beda, beberapa contoh pekerjaan yang aku sebutin di atas itu, harus lewat Ausbildung. Masih banyak pekerjaan lainnya lewat Ausbildung. Bisa buka ausbildung.de untuk liat pekerjaan apa aja yang harus lewat Ausbildung. Jadi, gak cuma perhotelan aja dengan Ausbildung. Terus, standar Ausbildung kalau udah lulus setara apa? Setauku, kalau udah lulus Ausbildung itu setara D3 di Indonesia. Setelah lulus, kamu gak akan dapat gelar tapi sertifikat yang bisa kamu pakai untuk apply kerja dimanapun. Berarti gajinya lebih rendah daripada yang kuliah donk? Gak juga. Setara. Bahkan ada yang lebih tinggi, tergantung pekerjaannya apa. Enaknya kerja di Jerman juga itu, ada kesetaraan penghasilan, jadi mau kerja apapun, penghasilan hampir sama jumlahnya, walaupun tentu aja tetap ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Juga dihitung dari berapa jam kamu kerja per hari, panjang deh kalau gaji. Males bahasnya. Haha.

So, balik lagi ke cerita daftar ausbildung. Karena temenku itu, aku mulai rajin baca-baca mengenai Ausbildung. Aku putuskan untuk coba apply Ausbildung Pharmakantin, Chemie Laborantin dan Biologie Laborantin. Sebelum masa setahun Aupair-ku selesai, aku udah mulai coba kirim lamaran sana sini. Karena setelah Aupair setiap orang diharuskan pulang ke negara asal dan aku pikir, kalau udah pulang akan lebih susah lagi apply visa Ausbildung. Jadi aku berusaha lamar sana sini, belajar bahasa makin giat dll. Mungkin aku kirim lebih dari 50 lamaran Ausbildung untuk di Berlin dan sekitarnya. Kenapa hanya di Berlin, padahal kalau coba ke kota lain juga mungkin lebih banyak peluangnya? Ya karena gak ada uang. Gak ada uang untuk ke kota lain kalau dipanggil wawancara, gak ada uang untuk cari tempat tinggal baru lagi, dll. Karena waktu di Indo aku sekolah kejuruan farmasi, juga pernah bekerja selama 3 tahun di RS sebeagai asisten apoteker, jadi mungkin itu salah satu keunggulanku dibanding orang lain, sehingga beberapa perusahaan memanggil aku untuk wawancara. Tentunya aku datang ke setiap undangan wawancara yang rata-rata akan di tes tertulis, kalau misalnya itu perusahaan  dimana aku melamar untuk Chemie Laborantin, akan di tes tertulis kimia, mathe, dan pengetahuan umum. Kalau itu perusahaan Biologie ya tes biologi, mathe, pengetahuan umum, dll. Tiap perusahaan berbeda dan tentunya tiap jenis pekerjaan juga tesnya berbeda. Kalau lulus, baru dipanggil tes lisan atau wawancara sesungguhnya. Ada juga beberapa perusahaan yang gak mengadakan tes, tapi langsung wawancara. Semua tergantung perusahaannya.

Loncat langsung ke wawancara, karena tes tertulis gak ada yang harus dibahas. Pada tes tertulis ya intinya kamu harus belajar materi dan bahasa aja, karena soalnya kan dalam bahasa Jerman, yang diujikan sih rata-rata materi SMA. Oke, wawancara. Wawancara Ausbildung tuh gak main-main. Bener-bener seperti sedang lamar pekerjaan. Ya iya lah, ikut Ausbildung kan, kamu juga di gaji oleh perusahaan tersebut, jadi tentunya perusahaan ingin orang yang ikut Ausbildung juga orang-orang yang memang kompeten. Makanya aku selalu bilang, untuk ikut Ausbildung, bahasa itu nomor 1. Karena saat wawancara aja kamu udah di nilai, kamu mampu berkomunikasi atau nggak. Mengerti pertanyaan atau nggak. Pertanyaannya sendiri bisa bermacam-macam. Mulai dari pertanyaan tentang diri kamu, tentang kenapa ingin ikut ausbildung bidang ini, tentang perusahaan, juga pengetahuan. Yang pasti sih, pertanyaan agama kamu apa, ayah ibu kerja apa, dan hal aneh lainnya, gak mungkin dipertanyakan, karena di Jerman, hal tersebut adalah privacy seseorang yang agak tabu untuk ditanyakan orang yang tidak dikenal. Gak kayak di Indo kan, baru wawancara pertanyaannya agama, orangtua, beda agama sama perusahaan, gagal masuk, Ortu gak punya koneksi, gagal juga. Hahaha.

Lanjut ceritaku, dari 50 lebih lamaran yang aku kirimkan, mungkin ada 5-7 perusahaan yang memanggil aku untuk wawancara dan tes. Dan karena bahasaku yang saat itu masih sangat pas-pasan, aku ditolak ahirnya dimanapun. Haha. Penolakan di Jerman juga sama kayak di Indo, kadang dikasih tahu apa alasannya, kadang ya gak dibalas sama sekali emailnya. Lalu, temanku yang baik itu bertanya kalau aku mau coba Ausbildung koki di tempat dia bekerja, karena saat itu hotel tempat dia bekerja sedang mencari Azubi, dan mungkin saja aku mau coba melamar. Setelah aku pikir-pikir, karena kayaknya aku gak ada peluang masuk Ausbildung kimia atau Bio atau farmasi karena kemampuan bahasaku yang masih minim, aku berencana untuk coba melamar Ausbildung koki di tempat dia bekerja dan menjadikan itu batu loncatan aja untuk bertahan tinggal di Jerman dulu, nanti kan kalau gak suka, pertengahan bisa berhenti dan ikut Ausbildung yang aku inginkan. Itu yang aku pikirkan. Lagipula gak ada salahnya coba, kalau gak berhasil ya sudah. Mau gak mau pulang Indo for good.

Singkat cerita, aku titip lamaran ke temanku saat itu, lalu dia melanjutkannya ke atasannya. Setelah berapa lama, aku ditelpon untuk datang wawancara di hotel yang akhirnya jadi tempatku Ausbildung selama 3 tahun. Chef nya baik, wawancara cukup lancar, dia gak banyak tanya, dan orangnya cukup friendly, lalu aku diundang untuk ikut Probe Tag (1 hari coba) di hotel. Singkat cerita, aku datang pada hari sabtu dimana kerja Aupairku hanya setengah hari, jadi setengah harinya dipakai untuk Probe Tag di hotel. Hari Sabtu di hotel gak terlalu banyak orang, hanya ada beberapa Azubi dan 2 orang Facharbeiter di dapur (karyawan lulusan koki). Aku dititipkan ke seorang sous-chef yang hari itu juga kerja, agar mendampingi aku. Setelah berkenalan, dipinjami baju kerja, ganti pakaian, aku pun mulai kerja. Aku yang belum terlalu ngerti bahasa Jerman saat itu jadi gak banyak ngomong, banyak diam, karena takut salah ngomong. Untungnya, aku bisa ngerti apa yang mereka minta aku lakukan, jadi hari itu berjalan dengan baik.

IMG_0707

Gak lama setelah Probe Tag, aku ditelpon lagi, diminta datang ke hotel. Ternyata aku diterima karena katanya aku anak yang sopan, gak malas, dan mau disuruh apapun. Tapi karena tahun ajaran baru untuk Ausbildung mulai September kalau gak salah, sementara aku selesai Aupair bulan Mei, jadi ada 3 bulan waktu dan aku gak bsia pulang Indo juga. Jadi aku tanya apabila aku bisa pakai 3 bulan itu untuk praktikum sekalian melancarkan bahasa sebelum benar-benar mulai Ausbildung. Dia setuju, tapi aku hanya akan digaji setengah dari gaji Ausbildung yang seharusnya. Aku oke, jadi surat kontrak untuk Praktikum pun mereka bikin, beberapa hari kemudian aku dipanggil lagi untuk datang ke hotal dan tanda tangan kontrak. Sebelum tanda tangan apapun, entah di Jerman atau di Indo, baca dengan seksama tiap poinnya, kalau ada hal yang gak setuju, langsung dibicarakan sebelum kamu tanda tangan. Mungkin di Indo surat kontrak gak terlalu keras hukumnya, di Jerman, semua harus tertulis hitam diatas putih. Surat kontrak kerja sangat berkuasa kalau suatu saat terjadi masalah. Itu sebabnya, gak dimanapun kamu berada, terutama Jerman, penting untuk baca seksama, tanyakan yang kurang jelas poin-poin yang gak kamu mengerti sebelum tanda tangan. Surat kontrak dibutuhkan untuk apply visa nantinya, minggu depan mungkin akan juga aku ceritakan saat aku apply visa pertama kali yang pakai tangisan darah itu. Haha.

Dalam 3 bulan praktikum tersebut adalah masa yang suliiiittt. Karena kemampuan bahasa masih minim, sementara setiap bidang punya bahasa masing-masing, misalnya teknik punya kata-kata yang khusus yang gak dipakai sehari-hari, atau bidang kesehatan juga punya kata-kata khusus, demikian juga tentunya perhotelan. Aku saat itu hanya bisa bahasa Jerman sehari-hari dalam tingkat pas-pasan. Hari pertama, Senin, dimana kami saat itu ada acara besar di hotel, hampir semua Facharbeiter, Azubi kerja, dan sangat banyak pekerjaan yang harus dilakukan, aku mungkin jadi batu untuk mereka. Seringkali karena butuh sesuatu dengan cepat, mereka akan menginstruksikan sesuatu dengan bahasa Jerman yang super cepet, dengan Berliner aksennya. OMG. Waktu itu suer kayak di neraka. Takut, malu, ingin nagis jadi satu karena aku gak ngerti apa yang mereka instruksikan, aku seringkali salah melakukan apa yang mereka minta. Karena itu hari pertama, mereka gak bilang apapun padaku, tapi aku jadi gak dikasih pekerjaan lagi, aku hanya disuruh melakukan sesuatu yang mudah dan lama. Setelah beberapa hari, mungkin mereka kesal dan berkali-kali juga aku kena marah, dibentak. Haha. Masa lalu suram sekali kalau dipikir-pikir. Dia juga bilang ke temanku yang memasukanku itu kalau agak sulit untukku lanjut Ausbildung disana karena kemampuan bahasaku. Temanku itu menyampaikan hal tersebut padaku. Setelah itu, aku jadi berusaha sangat keras menunjukan keinginan kerjaku, karena lama-kelamaan aku terbiasa dengan bahasanya dan lambat laun mulai mengerti apa yang mereka katakan dan bisa melakukan tiap instruksi, aku juga belajar bahasa dengan giat dirumah. Berkali-kali kalau pulang kerja aku nangis di rumah, karena sulit, capek, malu juga kadang. Tapi akhirnya 3 bulan berlalu, aku lanjut dengan kontrak Ausbildung, dengan masa percobaan 6 bulan dimana aku nyaris diberhentikan juga karena bahasa. Hahaha. Maka dari itu aku sering bilang kalau bahasa itu hal terpenting dalam Ausbildung. Bukan karena sok tahu atau sok jago, tapi karena pengalamanku seperti itu. Haha. Sekarang sih, bahasa aku udah sangat baik, aku dalam level bisa ikut debat dengan orang Jerman manapun dalam topik apapun, koran juga udah aku mengerti sepenuhnya, untuk ngobrol juga aku gak perlu mikir lagi, langsung keluar dengan sendirinya, otaknya udah jalan sepenuhnya untuk bahasa Jerman, walaupun tetep ada beberapa kata yang kalau aku jarang denger, atau bukan Fachbegriff yang aku kuasai ya susah. Haha. Sekian~

Our Insta is below here. Any questions on another Insta won’t be answered, just because the other one is my personal social media. Thanks 🙂

3 komentar

  1. Kamu gigih sekali, luar biasa 🙂 Banyak aku tau perempuan Indonesia disini (yang menikah sama orang sini yang malas banget disuruh cari kerja, mindsetnya kek di Indonesia, udah menikah ya udah beres, diurus suami, padahal mandiri, punya pekerjaan sendiri itu kan lebih bagus kalau ada apa2)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s