Cerita pengalaman pertama kali melahirkan

Setelah sekian lama gak nulis di blog lagi karena sibuk urus newborn, akhirnya hari ini aku berniat untuk nulis sesuatu lagi di blog. Aku sebelumnya udah pernah tulis juga tentang cerita kehamilanku (My Pregnancy Story (Cerita kehamilanku di Jerman)), nah di Tanggal 29 November yang lalu, akhirnya lahirlah anak pertama kami. Anak cowok terimut yang pernah kulihat dalam hidupku. Haha. Udah kena penyakit ibu-ibu juga kayaknya nih, selalu liat anak sendiri kayak yang paling ganteng, paling lucu, paling segalanya lah. Hahaha.

Tanggal perkiraan lahirnya sebenernya tanggal 11 Desember, tapi entah kenapa akhirnya keluar 2 minggu lebih awal. Mungkin anaknya udah bosen di dalem perut, jadi pengen cepet-cepet keluar. Hahaha. Yang udah sering baca blog aku pasti tau kalau kami tinggal di Jerman, kalau ada yang nanya, lahirannya tapi dimana nih? di Indo atau di Jerman? Tentunya di Jerman. Haha. Udah bayar asuransi kesehatan tiap bulan, terus malah lahiran di Indo kan sayang ya, lahiran disini gratis jadinya karena udah ada asuransi. Bener-bener gak bayar apapun loh mulai dari masuk sampe keluar RS, bahkan pulangnya dikasih banyak hadiah dari RS, kayak pampers, kaos kaki, dll. Kalau di Indo kan, mau punya asuransi ato kagak, tetep ada aja yang akhirnya harus dibayar. Semua orang yang tinggal di Jerman atau bahkan hanya datang untuk liburan aja, wajib punya asuransi kesehatan. Kalau kami sih, karena kerja disini, jadi bayar asuransi tiap bulannya langsung dipotong dari gaji. Jadi gak perlu extra bayar asuransi sendiri.

Lanjut ke cerita lahiranku, dimulai pada tanggal 28 November, dimana air ketuban tiba-tiba pecah. Haha. Padahal hampir semua orang yang tau aku hamil selalu bilang kalau lahiran anak pertama gak mungkin lebih cepet, pasti sesuai tanggal perkiraan atau bahkan lebih lama. Tapi ternyata aku bahkan lebih cepet 2 minggu. Hahaha. Air ketuban pecah sekitar jam setengah 4 subuh. Aku langsung panik karena ini kan lahiran pertamaku, apalagi kami hanya berdua disini, gak ada orang tua yang bisa dateng kesini juga karena pandemi. Aku juga panik karena air yang keluar banyak banget banget banget. Bener-bener ngalir keluar terus airnya, sampe celana yang aku pake tidur saat itu udah bener-bener basah. Untungnya hari saat air ketubanku pecah itu hari sabtu dan subuh, jadi Bram ada dirumah dan kami bisa langsung ke RS, kebayang kalau Bram lagi di kantor, perjalanan dari kantornya ke rumah aja butuh waktu sejam. Bakal makin panik kalo aku harus telpon ambulance dan pergi ke RS sendirian. Haha. Setelah bergegas ganti celana, kami langsung turun ke mobil, untungnya tas persalinan, car seat baby udah dipersiapkan sebelumnya sehingga waktu saatnya tiba, kami hanya perlu angkat semuanya masuk mobil dan langsung pergi.

Waktu perjalanan yang dibutuhkan dari tempat tinggal kami ke RS hanya 10 menit dengan mobil. Dijalan kami masih bisa ketawa-ketawa bercanda belum tau hari-hari kedepan yang menanti akan seperti apa. Haha. Karena saat air ketubanku pecah itu, aku pun belum merasakan kontraksi apapun, jadi masih santai, hanya celana aja basah kuyup. Sampai di RS, karena covid, Bram tidak diperbolehkan masuk, dia hanya bisa menunggu di ruang tunggu sementara aku diperiksa dulu (USG, CTG, dan lihat pembukaan rahimnya). Setelah pemeriksaan selesai dan ternyata waktu lahirannya diperkirakan masih lama, jadi Bram diperbolehkan melihatku sebentar, lalu dia disuruh pulang lagi sampai nanti saat aku lahiran, baru dia boleh datang lagi menemani aku. Sementara aku dibawa ke Bett Station, menunggu kontraksi dimulai. Lahiran disini dibantu oleh Hebamme atau bidan, sementara dokter hanya akan membantu kalau terjadi sesuatu yang berbahaya, seperti misalnya harus operasi mendadak, anaknya gak keluar-keluar padahal pembukaan udah lengkap, ibu kecapean, jantung anak lemah, dll. Hebamme sebelumnya bilang kalau kami akan menunggu datangnya kontraksi alami dulu selama 12 jam, kalau dalam 12 jam gak ada kontraksi, maka akan diinduksi. Dari hasil CTG sebenarnya terlihat kalau sudah ada beberapa kali kontraksi, tapi belum cukup kuat untuk dimulainya persalinan, aku aja belum merasakan kontraksinya. Jadi aku ditinggal dikamar dan disuruh tidur, makan terlebih dahulu.

Dalam 12 jam tersebut, setiap 3-4 jam sekali, perawat akan datang untuk memeriksa aku (CTG dan tekanan darah). Sampai sekitar pukul 14.00, aku belum merasakan adanya kontraksi yang berarti sampai pukul 16.00, baru aku merasakan kontraksi yang cukup kuat. Sekitar pukul 16.30, aku dipanggil untuk pemeriksaan lebih lanjut karena 12 jam telah berlalu dan kontraksi alami yang diharapkan tidak kunjung tiba, akhirnya aku diberi tablet cytotec untuk menginduksi persalinanku dan aku diminta kembali ke kamar untuk menunggu kontraksi yang lebih kuat lagi. Gak lama setelah minum tablet, sekitar pukul 18.30 aku memanggil perawat karena gak tahan dengan kontraksi yang menurutku udah cukup kuat. Aku ingin Bram bisa dateng sekarang dan menemani aku, jadi aku panggil perawat untuk bertanya apakah suamiku bisa datang sekarang karena kontraksinya udah makin menjadi-jadi dan aku butuh dia. Perawat memintaku untuk kembali diperiksa di ruang pemeriksaan dan Bram diperbolehkan datang pukul 20.00, sementara aku diminta kembali ke kamar sampai saat itu. Di RS sini serba mandiri. Aku lagi sakit gitu, air ketuban ngalir, mau kemana-mana jalan kaki sendirian gak dengan perawat. Haha. Bahkan dari kamar ke ruang pemeriksaan atau sebaliknya harus naik turun tangga dan tetep sendirian. Aku selalu disuruh pake masker lagi, padahal lagi sakit gitu, inget pake masker aja susah. Tapi tiap kali aku lupa pake masker, pasti aku diminta ambil maskerku lagi. Sampah sekali. Hahaha.

Pukul 19.30, aku diminta kembali datang ke ruang pemeriksaan. Disini sakitnya udah gila sih, pengen cepet-cepet berakhir aja rasanya. Di ruang pemeriksaan aku kembali periksa CTG dan tekanan darah. Periksa CTG itu harus minimal 30 menit, dan itu 30 menit terlama dalam hidupku, 30-40 menit yang dimana tiap 2-3 menit sekali muncul kesakitan yang wow, gak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi. Haha. Sampai akhirnya Bram dateng pukul 20.00, dia bantu aku elus-elus punggung tiap kali kontraksi dateng, pegang tangan aku, dll yang bisa dia lakukan. Gak lama setelah Bram datang, Hebamme memasukan suppositoria agar aku bisa buang air dulu sebelum persalinan. Hebamme bilang, setelah dimasukkan, kalau bisa tunggu dulu selama 5 menit, baru ke toilet. Tapi efek suppositoria itu cepet banget. Boro-boro mau nunggu 5 menit, 2 menit aja gak bisa, langsung ada gejolak ingin buang air dari tubuhku. Aku langsung jalan menuju toilet dibantu Bram, dia bahkan yang flush kotoranku. Haha. Setelah itu aku diminta hebamme untuk berdiri, goyang pinggul, tiduran miring dll agar mempercepat pembukaan katanya. Itu gila sih hahaa. Sakitnya udah gak bisa diucapkan lagi gimana rasanya. Mungkin 30 menit setelah itu, aku disuruh berendam air hangat biar relaks dan bisa membuka rahim lebih cepat katanya. Hahaha. Aku dalam otak udah whaatt??! Lagi sakit gini disuruh berendam lagi hahaha. Gak lama setelah airnya disiapkan, aku masuk kedalam bath tub dan berendam dalam keadaan 2-3 menit sekali kontraksi yang menyakitkan itu datang dan beberapa kali juga kotoran keluar tiap kali aku kontraksi. Udah gila sih itu. Haha. Bram bantu siram-siram air ke perut dan dadaku biar gak kedinginan. Sampai akhirnya aku udah gak tahan dan bilang ke hebamme kalau udah gak mau berendam lagi. Lalu kata Hebammenya, oke boleh udahan setelah 5 kali kontraksi lagi ya. Hahaha. Mati udah.

Setelah berendam, aku diberi pakaian khusus bersalin dan masuk ke ruang persalinan. Disitulah waktu paling menyakitkan terjadi dalam hidupku. Haha. Aku lahiran normal, gak pakai epidural atau semacamnya juga, karena di Jerman ini apapun dianjurkan untuk dilakukan secara normal, tentunya lahiran normal tanpa epidural, disini gak ada orang yang bisa milih mau sesar atau normal. Semua wajib normal dulu, kecuali ada sesuatu sehingga mengharuskan kami untuk di sesar. Setiap kontraksi yang dateng udah bikin gila, tapi belum dibolehin dorong, padahal dari dalem tubuh rasanya ingin push anaknya biar keluar. Semua pelajaran persiapan kelahiran hilang dibawa angin, udah belajar nafas dr kapan, pada saatnya disuruh praktekin tarik dan keluarin nafas, langsung salah cara bernafasnya haha. Yang aku amaze, aku masih bisa mikir, masih ngomong bahasa jerman sama hebamme nya, padahal aku kira, aku bakal ngoceh ngalor ngidul pake bahasa indo. Hahaha.

Setelah beberapa saat, juga setelah dibolak balik kaya ayam panggang, disuruh balik kiri, balik kanan, duduk, dll.. sampe sekitar jam 11.50, pembukaan udah full tapi anaknya belum keluar aja karena kontraksinya masih kurang kuat katanya. Akhirnya aku dikasih induksi lagi dalam bentuk tetes dan ditetesin ke vagina sepertinya, idk. Tapi yang pasti beberapa detik setelah itu kontraksinya dasyat banget. Aku baru disuruh push setelah induksi kali itu. Kalau gak salah 4 kali dorong, akhirnya anak kami lahir pukul 00.14 tanggal 29 November 2020. Abis anaknya lahir, akhirnya aku ngerti apa yang selalu dibilang orang2 “nanti setelah lihat anaknya lahir akan ada gelombang kebahagiaan yang luar biasa” . Padahal yang sebenernya terjadi adalah begitu anaknya keluar, kontraksi yg tadinya rasanya mematikan itu secara tiba-tiba hilang, dan aku kayak lega aja akhirnya gak sakit lagi perutnya. Ya liat anaknya keluar bahagia juga hahaha tapi gak se-bahagia kontraksinya hilang hahaha.

Setelah anaknya lahir, anaknya langsung diberikan ke aku biar dia cium bau dan dapat kehangatan dari ibunya katanya, sambil aku mendapat beberapa jahitan oleh dokter, lalu setelah selesai, anaknya diukur, diperiksa kelengkapannya, lalu kembali diberikan padaku untuk menyusui pertama kali. Rasanya aneh banget ada anak yang tiba2 sedot2 payudara kamu gitu haha. Dia gak terlalu bisa nyusu, jadi dicoba agak lama sampe akhirnya bisa, itupun gak lama. Lalu foto2 sebentar dan kami dibawa ke station bett untuk recovery. Aku ngerasa lahiran anak pertama ini lama banget, 21 jam dari masuk RS sampai anaknya lahir, tapi kata Hebamme dan perawat untuk anak pertama itu udah cepet, entahlah, haha, yang penting anaknya lahir sehat. Sekian cerita lahiran aku, semoga ibu ibu diluar sana yang lagi hamil terus gak sengaja baca blog-ku, gak jadi takut dengan persalinan ya. Hihihi.

Follow us:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s