Faith

carol 13
Saya – 4 tahun

Nama aku Carolina Chandra, aku lahir dalam keluarga Kristen yang cukup taat, pelayanan, aktifis gereja, doa keluarga bersama, puasa bersama hal yang biasa kami lakukan. Aku dibaptis saat umurku 11, tapi aku baru menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan waktu aku umur 14. Tapi, apa dengan begitu kehidupan kami jadi mulus tanpa masalah? Tentu tidak, tapi semua pastinya kami lewati bersama Tuhan.

Saat umurku kurang dari 1 tahun, kami sekeluarga pindah ke Jakarta karena pekerjaan papa. Pekerjaan papa di Jakarta sangat baik, sehingga hidup kami sangat berkecukupan.

oldi
Adik saya

Pada tahun 1998 bulan Mei, adikku lahir. Keadaan di Jakarta saat itu sedang kritis. Kerusuhan Mei 1998 yang terkenal terjadi saat adikku lahir. Rumah kami saat itu berada dikawasan perkantoran. Kantor papa dibakar, sekeliling rumahku juga dibakar, puji Tuhan rumah kami masih dilindungi Tuhan.

Karena kantornya yang dibakar itu, papa jadi harus mencoba bisnis lain dengan sisa uangnya dan saat itu adalah masa yang sulit. Dia mencoba membuka sebuah usaha dengan seorang yang dikatakan sahabatnya. Dan sayangnya, dia ditipu oleh orang tersebut, yang mengakibatkan uang terakhir papa habis total. Bersyukurnya, keluarga kami selalu belajar untuk mensyukuri apa yang kami miliki, sehingga kejatuhan itu tidak membuat orangtua saya terlalu stress atau bunuh diri.

Pada akhirnya, kami sekeluarga pindah ke Bandung. Saat itu umur saya 6 tahun. Bersyukur lagi, kami memiliki rumah di Bandung, sehingga orangtua saya tidak perlu sulit lagi memikirkan rumah. Saat itu, yang kami miliki hanya rumah. Kemewahan yang selama ini ada, hilang seperti ditelan ombak. Saya yang biasa dengan kemewahan tersebut pun jatuh sakit selama sebulan setelah pindah ke Bandung. Bahkan saat itu, daftar sekolah saja sulit untuk orangtua saya, karena minimnya uang yang dimiliki. Bersyukur, ada saudara yang baik, yang mau membantu menyekolahkan saya disekolah yang baik.

Kami hidup di Bandung dengan cukup, papa memulai lagi dengan berbagai macam usaha. Naik turun kehidupan sangat kami alami saat itu.

Saat saya berada di kelas 9 SMP, saatnya memilih SMA. Waktu itu, saya hanya ingin ke SMA Trinitas atau SMAK 2/3 Penabur. Mama juga sudah membeli 1 formulir dari sekolah tersebut. Tapi tiba-tiba, mama mendengar tentang sekolah Farmasi BPK Penabur dan langsung membeli formulir untuk sekolah tersebut. Saat itu saya kecewa, marah kepada keputusan orangtua saya untuk menyekolahkan saya disana. Tapi untungnya, untuk masuk ke sekolah tersebut, setiap anak harus ditest dalam beberapa pelajaran, dan dari 300-500 anak, nantinya hanya akan terpilih 80 anak untuk masuk ke sekolah tersebut. Apa yang saya lakukan? Tentu saja tidak belajar dan berharap tidak masuk kesekolah tersebut. Lagipula, harapan untuk masuk ke sekolah itu sangat kecil dalam pikiran saya. Hampir semua teman di SMP yang memiliki rangking 1-8 mengikuti test tersebut. Saya ada dalam rangking puluhan, tentu tidak lolos pikirku.

DSC00704
SMF BPK Penabur

Saya mengikuti test tanpa belajar, mengisi sebisa mungkin. Saat pengumuman pun tiba. Saya ada di daftar anak yang berhasil masuk. Saya berdiri didepan papan pengumuman tersebut sambil menangis, saat yang lain bersukacita karena bisa lolos, tidak demikian dengan saya, saya benar-benar kecewa, marah karena berhasil masuk ke sekolah tersebut. Beberapa anak rangking 1-8 yang ikut test dengan saya bahkan tidak berhasil lolos. Tapi saya lolos.

Tapi saya tahu, itu semua rencana Tuhan buat saya, yang mungkin waktu itu saya tidak menyadarinya. disekolah itu, anak-anak yang nilainya kurang, pada akhir kelas 10 akan di drop out. Dan saya tentunya malah berharap untuk di drop out. Kelas 10 semester satu, saya tidak pernah belajar sama sekali, yang akhirnya nilai saya buruk. Nilai 1-3 dari 10 menjadi hal yang biasa saat itu. Akhir semester 1, orangtua saya dipanggil ke sekolah karena jeleknya nilai saya, dan guru berkata kalau ada kemungkinan saya drop out. Saya bilang ke mama, “yeeee kalau drop out, saya pindah sekolah trinitas ya” dan mama saya berkata, “mama ga ada uang lagi, kalau kamu drop out, mama sekolahkan di sekolah xxx  yaitu sekolah terjelek di bandung, dengan manner yang sangat buruk. Singkat cerita, akhirnya saya berusaha untuk memperbaiki nilai dan berhasil.

Kelas 12, saat itu adalah trennya surat undangan untuk anak-anak pintar agar bisa masuk perguruan tinggi negri. Dengan kata lain, jika punya surat undangan tersebut, bisa masuk PTN dengan mudah tanpa test. Dan saya adalah salah satu anak yang berhasil mendapat surat tersebut. Saat mengisi lembar itu, saya juga kurang tahu bagaimana, yang akhirnya saya diharuskan membayar sekian juta rupiah sementara teman yang lain tidak. Saya kembali sangat kecewa saat itu, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak ikut masuk PTN karena nominal yang dibutuhkan. Sementara teman-teman saya masuk PTN dengan mudah.

256776_1976071999427_1171902780_32053931_1309738_o
lulus SMF

Seperti yang sudah dikatakan, itu semua rencana Tuhan. Saya akhirnya mencoba untuk melamar pekerjaan di salah satu rumah sakit kristen terkenal di Bandung sebagai asisten apoteker, dengan gaji yang dikatakan paling besar di Bandung untuk asisten apoteker. Dan bersyukur lagi, saya berhasil masuk, saat yang lain ditolak. Saya sangat bersyukur saat itu, karena semua jalan Tuhan yang diberikan untuk saya. Saat itu, orangtua saya sedang dalam keadaan yang sulit, sehingga dengan bekerja bisa membantu perekonomian keluarga.Seandainya saya tidak bersekolah di farmasi, mungkin saya hanya bisa jaga toko dengan gaji kecil atau nganggur dirumah. Rencana Tuhan luar biasa buat hidup saya.

Oya, saya lupa bilang, cita-cita terbesar saya adalah bisa belajar di Jerman. Tidak tahu kenapa, tapi belajar di Jerman sudah jadi cita-cita saya selama saya SD. Mungkin untuk sebagian orang bilang, “ke Jerman saja cita-cita. Tinggal daftar, pergi, selesai.” Iya, itu kalian. Kalau saya, dengan keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, belajar ke Jerman itu adalah sebuah cita-cita.

DSC_0176

Selagi bekerja juga saya menabung untuk belajar di Jerman. Setelah 1 setengah tahun bekerja, saya berencana untuk kuliah sambil kerja. Saya ingin kuliah bahasa Jerman, supaya bisa mencapai cita-cita saya tersebut.  Beruntungnya, didepan tempat kerja ada tempat kuliah bahasa yang cukup baik dengan biaya yang juga terjangkau. Sayangnya, bahasa Jerman saat itu hanya ada di kelas pagi, sementara saya harus mengambil kelas sore karena sambil bekerja. Akhirnya, saya ambil kelas inggris sore, dan saya ambil les bahasa Jerman. Jadi setiap hari aktivitas saya kira-kira, kerja malam, les Jerman pagi, siang tidur, sore kuliah. Setiap hari saya hanya bisa tidur selama 2-3 jam. Dan Puji Tuhan saya sehat saat itu.

Saat saya mau masuk semester 5, ada seorang guru yang menceritakan mengenai aupair. Setelah mendengarnya, saya tertarik dan mencari informasi mengenai aupair di internet. Saya mendaftarkan diri dan singkat cerita saya mendapatkan keluarga di Jerman. Betapa senangnya saya saat itu. Satu langkah menuju belajar di Jerman hampir tercapai. Papa tapi dengan berat hati mengijinkan, karena papa ingin saya lulus kuliah dulu. Tapi, karena orang tua saya tahu kalau itu adalah cita-cita saya dari kecil, akhirnya mereka mengijinkan saya untuk pergi. Dengan uang tabungan hasil kerja sebesar 25 juta saat itu, saya pakai untuk membeli tiket pesawat dan saya tukarkan juga untuk uang pegangan selama di Jerman.

Saya tidak pernah lepas dari orang tua selama saya hidup saat itu. Ke Jerman adalah pertama kalinya saya lepas dari orang tua. Tanpa kenal seorang pun, tanpa uang yang cukup, naik pesawat untuk pertama kalinya, bahkan tinggal dengan orang lain. Betapa kawatirnya orang tua saat itu. Tapi tidak dengan saya, saya percaya, ini jalan dari Tuhan dan Tuhan pasti ada bersama saya.

DSC_0122
Family-waktu mau antar ke Airport

Akhirnya, saya sampai di Jerman, dijemput oleh keluarga asuh saat itu. Saya berhasil datang ke Jerman dengan selamat. Dan mama selalu berkata untuk cari gereja dulu kalau saya sampai, bersyukur sama Tuhan bisa sampai Jerman dengan selamat.Awalnya, semua berjalan lancar. Tapi, akhirnya, beberapa hal terasa sulit. Hubungan dengan keluarga asuh pun tidak terlalu lancar. Bersyukur, saya rajin datang ke gereja di Potsdam, sehingga beberapa teman, nenek yang sering saya temani membantu saya untuk mencari keluarga lain. Singkat cerita, saya mendapat keluarga baru di Berlin. Mereka keluarga Afrika-Jerman yang sangat baik. Dengan anak-anak yang juga sangat baik. Saya tinggal dengan mereka selama 9 bulan sambil Sprachschule. Saya sangat bersyukur buat semua yang Tuhan berikan saat itu.

Selanjutnya, saya ingin bisa melanjutkan study di Jerman. Saya berusaha mencari berbagai info yang ternyata dikatakan kalau saya harus ikut studienkolleg. Dan saya berpikir, kalau ikut studienkolleg, saya tidak bisa kerja, uang rumah dengan uang makan nanti tidak ada, akhirnya saya berusaha mengurungkan niat untuk kuliah. Saya berdoa untuk masa depan saya, saya tetap berharap pada Tuhan untuk bisa kuliah di Jerman, saya berusaha, tapi juga tidak memaksa. Akhirnya saya mendengar mengenai ausbildung dari seorang teman, akhirnya saya berusaha untuk daftar Chemielaborantin ausbildung atau Pharmakantin ausbildung. Saya mengirim sekitar 50-70 lamaran saat itu. Saya dipanggil untuk interview di berbagai tempat. Tapi, dengan bahasa saya yang minim, saya akhirnya tidak mendapatkan satu pun tempat ausbildung.

Pada suatu hari, salah seorang sahabat yang sedang ausbildung menawarkan untuk ausbildung di tempat dia bekerja, tapi sebagai koki. Saya berpikir, mungkin mencoba tidak ada salahnya. Saya akhirnya mencoba melamar juga saya doakan. Singkat cerita, saya diterima ausbildung sebagai koki. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena akhirnya saya bisa diterima. Walaupun mungkin bukan pekerjaan yang saya mau, tapi saya benar-benar bersyukur karena bisa mendapatkan tempat ausbildung di Jerman dan saya tahu, itu yang terbaik dari Tuhan untuk saya.

IMG-20141229-WA0001

Pengurusan visa juga bukan hal yang mudah buat saya. Saya mengurus visum sekitar 2 bulan sebelum mulai ausbildung. Petugas imigrasi Jerman berkata, saya harus menunggu email. Tapi, 1 bulan berlalu, saya tidak mendapatkan satu pun email. Dan visum saya 1 bulan lagi habis. Saya datang ke kantor ABH (imigrasi Jerman) untuk bertanya. Dan kata mereka, saya belum mengirimkan berkas apapun. Padahal saya sudah mengirimkan berkas satu bulan sebelumnya. Keesokan harinya, saya menyerahkan berkas sekali lagi kepada mereka dengan uang di bank sebesar 2000€ dipinjamkan oleh teman. Beberapa hari setelahnya, saya mendapatkan email yang berkata kalau saya harus mempunyai Verpfichtungserklärung (Surat keterangan kalau ada orang yang membiayai saya) dari orang tua. Saya berusaha minta Verpflichtungserklärung dari orang tua, tapi sayangnya saat itu sedang lebaran di Indonesia, orang tua sudah ke Jakarta tapi kedutaan tutup, singkat cerita, orangtua tidak bisa menyanggupi syarat tersebut. Saya juga minta bantuan verpflichtungserklärung kepada seorang teman di Berlin, yang sayangnya saat itu juga tidak bisa memenuhi syarat tersebut. Saya menangis di ABH karena kecewa. Visum 3 minggu lagi habis, vertragausbildung ditangan, tapi saya tidak bisa dapat visa. Saya hanya berdoa minta bantuan Tuhan dan berserah kalau seandainya saya harus pulang Indonesia, saya tidak kecewa.

2 minggu sebelum visum habis, saya kembali ke ABH dan bertanya apabila saya mempunyai uang 9080€ seperti student, visa saya bisa dibuat. Dan jawaban mereka, “tidak bisa, karena untuk ausbildungfallnya lain. Kalaupun mau, harus ada 15000” Saya pun kembali pulang dengan tangan kosong. 1 minggu sebelum visa habis, saya mendapatkan email dari ABH yang mengatakan, saya bisa membuat visa dengan sperrkonto sebesar 10500 dan harus ada sebelum visa saya habis, dengan kata lain 10500€ dalam waktu 1 minggu untuk bisa melanjutkan pembuatan visa. Saya berpikir itu mustahil. 10500€ dalam waktu 1 minggu. Saya berdoa dan juga berusaha, tanya orang tua yang hanya bisa memberikan 600€ saat itu, dan keluarga yang malah memarahi saya saat itu. Saya cukup kecewa, frustasi. Mama berkata, „kalau kamu gak bisa lanjutinyaudah pulang ajalin, lanjutin kuliah di Indonesia. Maafin mama papa yang ga bisa bantu kamu saat ini“. Saya hanya berdoa „Tuhan, kalau Tuhan bolehin saya belajar di Jerman, saya percaya Tuhan yang kasih jalan. Tapi kalau nggak, tuhan tolong aja, supaya saya gak kecewa kalau harus pulang Indonesia.“ saya belum beli tiket pulang saat itu, saya masih percaya mujizat. Tapi memang tuhan kita adalah tuhan yang sanggup, tuhan yang ada. Beberapa teman mau meminjamkan uang kepada saya dengan mudahnya, bahkan saya boleh mengembalikan uangnya kapanpun saya mampu. Gilaaaa.. Luar biasa banget Tuhan saya buat saya saat itu. Saya menangis dan saya akhirnya berhasil mendapatkan visa tepat 1 hari sebelum visa saya habis.

Potsdamer platz-Berlin
Berlin – 2014

Selama saya di Jerman, saya tidak pernah meminta orang tua saya mengirimkan uang kepada saya. Saya benar-benar hanya hidup dari uang gaji ausbildung yang tidak seberapa. Gaji saya di tahun pertama brutto 600€, netto 500€. Dari uang itu, saya juga tidak tahu bagaimana cukup untuk makan, wohnung, sesekali makan diluar, bahkan jalan-jalan. Saya sampai sekarang tidak mengerti bagaimana itu semua bisa cukup. Bahkan utang-utang saya ke teman-teman sudah berhasil dilunasi awal tahun 2017. Tuhan benar-benar mencukupkan saya selama tahun-tahun itu.

(Ada bagian yang di cropped, jadi ceritanya gak lengkap. Haha)

Tahun 2017, seorang sahabat yang menurut saya paling dekat dengan saya mengecewakan saya. Hati saya hancur. Saya sebenarnya adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan perkataan orang lain, tapi malam itu, saya benar-benar kecewa. Hari itu, saya merasa tidak memiliki teman lagi. Saya merasa tadinya dia adalah satu-satunya teman saya dimana saya menceritakan kepadanya segala hal mengenai saya, dan tiba-tiba, saya kehilangan dan dikecewakan sekali lagi oleh seorang teman terdekat. Dalam pikiran saya saat itu, “Tuhan, satu hal baru selesai dari kehidupan aku. Kenapa sekarang sesuatu yang baru terjadi lagi?“ tidak lama setelahnya, saya berdoa. Saya bilang dalam doa „Tuhan, manusia bisa mengecewakan. Tapi saya tau, Tuhan gak akan pernah mengecewakan saya“. Teman, saudara, pacar, bahkan orangtua bisa meninggalkan kita, tapi Tuhan Yesus selalu ada, selalu siap dengan cerita kita, selalu siap dengan tangisan kita, dan selalu memanggil, menunggu kita waktu kita pergi.

Semua yang terjadi pada saya tidak sepenuhnya mulus seperti yang saya inginkan. Tapi saya tahu, itu yang terbaik buat saya dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan untuk kehidupan yang dia berikan kepada saya.

Selesai~ God Bless You ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s